. Catatan kecilku

Kamis, 19 Agustus 2010

Malam Itu Tiba-Tiba

malam itu, tiba-tiba saja aku ingat pada sebuah perjumpaaan
dan tersenyum saat sadar bahwa kita telah lama jatuh cinta pada subuh dan embun di pucuk daun
dengan tergesa aku tuliskan banyak lamunan dan harap akan nyatanya
katanya,
kita jangan berdusta pada angin yang membawa benih-benih
angin yang menghempaskan dandelion di tanah baru tempat ia kembali merajut cerita
cerita tentang negeri dengan naga dan awan-awan
malam tu, tiba-tiba aku teringat pada sebuah pepisahan
saat kita berkta tanpa kata
walau kita sadar,
telah lama jatuh cinta pada nyanyi angin kala mentari datang.

Penulis Diena Firdausi 

Jangan Percaya

jangan terlalu percaya pada cinta
karena sinar-sinar dari langit telah membentuk selengkung warna
warna merah muda jangan percaya
sebab ia terlalu pucat saat kau mengolesnya pada senja
jangan percaya pada mata dan alis yang menaunginya
terkadang ia memang bukan lagi jendela jiwa.

Penulis Diena Firdausi

Rahasia

dia telah cukup lama mengangguk
meyakinkan setiap cerahnya lewat sesuatu yang tersaput kabut
samar-samar
tapi kemudian menjadi bayang yang nyata dan nampak terang
kemudian ia menari-nari dalam tiap lagu sumbang yang terdengar
mengatakan bahwa ungu dalah biru yang kemerah-merahan
dan menunjuk langit senja sebagai merah yang kekuningan
dia berbicara lewat mata
seharusnya ini bukan lagi tangis saat nampak jelas segala yang tak indah
dia muncul dari kerutan-kerutan
dan buramnyapun karena kerutan
saat kau tersadar
seharusnya selama ini menatap yang ada
sebagai yang benar-benar di sana .

Penulis Diena Firdausi 

Ada Orang yang Datang

dia datang bersama angin
namun tak juga menjelma angin dan pergi
ia berputar dengan baling-baling berdebu yang entah mengapa terdengar merdu
dia datang dengan getaran
tapi tak juga menjelma getaran dan menghilang
menjadi merambat pada setap relung kosong yang segera terisi tentang banyak ingatan
dan kisah
dan sepi
ini luka yang dulu ingin kau lihat
katamu, padanya
tak terlihat dan tak terucap yang kau mengerti mengapa
ia telah benar-benar seperti apa yang seharusnya
datang, namun telah menjelma angin dan getaran
mungkin, begitulah sebaiknya
atau mungkin,
entahlah.

Penulis Diena Firdausi 

Malam Saat Ia Sunyi

malam saat ia sunyi
menggeretakkan daun-daun
memudarkan segala ingat
kecuali tentang satu betapa takutku berpisah dengannya
yang mengalirkan anak sungai di pelupuk matanya, dipundakku
tak takut ia pada runtuhnya langit
tak takut ia pada berakhirnya waktu
tapi ia teramat takut pada berkurangnya rasa
meski bukan pada dirinya saja
malam saat ia sunyi
memudarkan segala ingat
kecuali tentang satu.

Penulis Diena Firdausi

Bulu Mata yang Jatuh

pada sepercik embun yang menempel pada mentari
berbuah rindu, tapi sayu
memudarkan deret-deret warna dan ingatan pada suatu waktu terliput malam
seharusnya ia terpudar ...
berakhirlah kata-kata yang mengeja makna dan menggilir arti di tiap hurufnya menyayat larik-larik yang tergores pada kenangan kisah-kisah dalam kalimat panjang, tanpa jeda, tanpa titik akhir, tanpa katakata
. . . hanya bulu mata yang jatuh
bukan apa-apa.

Penulis Diena Firdausi

Seandainya

sendainya tak perlu ada perjumpaan
di suatu subuh yang meloncat memulai waktu
hari itu
seandainya tak usah kau menggoreskan kuas pada lembaran kertas yang membawa pada masa saat senja terasa indah
seandainya tak perlu kau berkata tentang matahari di esok pagi
bersama siapa berharap kau melukisnya
seandainya tak pernah kau memalingkan langkah untuk menyebutnya di hadapan langit waktu berhembus lembut angin diantara tiap jeda
seandainya bisa ada kata seandainya
namun sayang ia memang tak pernah berarti apa-apa
selain bercerita tentang selaksa bimbang
yang entah kapan bisa terlupa.

Penulis Diena Firdausi
 

Statistik

Followers

Best View: Mozilla Firefox. Template is proudly powered by Blogger.com | Template by Amatullah. Syukur |